Psychocamp Psikologi UNAIR

Psychocamp.

Psychocamp, lebih dari tahap pengaderan.

Lebih dari merekatkan antar anggota angkatan.

Lebih dari melihat senyum ceriamu yang memancarkan kebahagiaan.

Lebih dari 3 hari tanpa mandi.

Lebih dari 3 hari terasing tanpa jaringan 4G.

Lebih dari melingkar sambil menikmati hangatnya api unggun.

Lebih dari mendekatkan yang belum dekat.

Lebih dari mengenalkan yang belum kenal.

Lebih dari menuliskan kenangan di tinta kehidupan.

Lebih dari itu semua, menurutku, Psychocamp ada sebagai perwujudan rasa syukur kita sebagai hamba.

Syukur karena masih mampu berjalan melihat pemandangan hasil ciptaan Tuhan Pemilk Alam.

Syukur karena masih diberikan kesempatan menghirup wanginya udara pagi tanpa polusi.

Syukur karena masih mampu mendengar kicauan burung-burung yang menemani sore hari.

Syukur karena masih mampu melingkar bercengkrama riang di bawah langit  yang berbintang.

 

Advertisements

Bersyukur

Bismillah,

Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Alhamdulillah, berkat rahmat dan hidayah serta ridho Allah masih bisa menikmati Ramadan tahun ini dan masih bisa menulis di lembaran ini.

Bersyukur. 

Sering kita dengar, sering kita lakukan, sering kita panjatkan. 

Sebenarnya apa sih bersyukur itu?

Bersyukur menurut KBBI berasal dari kata dasar syukur, yang berarti rasa terima kasih kepada Allah. Sedangkan bersyukur yaitu berterima kasih atau mengucapkan syukur.

Nah, salah satu bentuk bersykur adalah mengucapkan syukur. Kalimat yang seringkali kita panjatkan adalah “Alhamdulillahi robbil’alamin”. Betul kan pembaca sekalian?

Tetapi sebenarnya, bersyukur lebih dari itu teman-teman.

Bersyukur seperti yang dibahas di awal merupakan rasa terima kasih kepada Allah. Rasa terima kasih berupa macam-macam jenisnya.

Tetapi, menurut kami rasa terima kasih yang paling besar adalah memanfaatkan pemberian Allah dengan baik.

Ketika kita diberi waktu oleh Allah maka mari sama-sama kita manfaatkan waktu itu dengan baik.

Ketika kita diberi nikmat sehat oleh Allah maka mari sama-sama kita manfaatkan sehat untuk berbuat baik.

Ketika kita diberi mata oleh Allah maka mari sama-sama kita manfaatkan mata kita untuk melihat yang baik, diberi telinga maka kita manfaatkan untuk mendengar yang baik, diberi mulut maka kita manfaatkan untuk berbicara yang baik.

Akhirnya, memang tidak ada manusia yang sempurna, kita hanya bisa mendekati kesempurnaan itu tanpa bisa meraihnya karena kesempurnaan hanya milik Allah.

Ketika kita berbuat salah maka ingat bahwa pintu taubat masih terbuka lebar, mari kita sama-sama mengingatkan jika ada kesalahan.

Sekian,

Wassalmualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Tentang Baiturrahman

Assalamualaikum,

(13/2/2017). Di malam yang sedang ditemani oleh hujan yang deras, saat kami sedang menunggu dibukanya kelas tambahan dalam proses pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) tiba-tiba kami teringat sesuatu.

Ketika kami membuka Path dan ada sebuah pemberitahuan tentang ‘Blast memory from the past’ yang menampilkan sebuah poster himbauan untuk tidak merayakan Hari Valentine yang dikreasikan oleh para personil DKM Baiturrahman SMAN 2 Cirebon. Adanya pemberitahuan di Path ini membuat ingatan kami kembali ke masa-masa di SMA dulu.

Semua bermula dari Masjid Baiturrahman. Baiturrahman kurang lebih memiliki makna yang cukup dalam. Baitu berarti rumah dan Rahman adalah Kasih. Menurut hemat kami, Baiturrahman bermakna Rumah yang Dikashi, atau Rumah Penuh Kasih Sayang. Dan di Baiturrahman ini kami memeroleh hidayah dari Yang Maha Pengasih kemudian kami dapat berproses dan berproses menjadi insan yang lebih baik, insya Allah.

Tanpa proses di Masjid Baiturrahman mungkin kami hanya menjadi insan yang rata-rata, insan yang tak punya pengalaman indah, insan yang stagnan.

Baiturrahman, tak hanya menjadi tempat beribadah dan bermunajat kepada Yang Maha Pengampun. Baiturrahman menjadi seperti makna yang diungkapkan kami sebelumnya, menjadi rumah yang penuh kasih sayang. Jika Yang Maha Pengasih berkenan, suatu saat kami akan kembali ke Baiturrahman.

Menyikapi Kabar Burung

Kabar burung. Kabar yang dibawa oleh burung ?

Kabar burung menurut situs kbbi.web.id memiliki makna yang serupa dengan desas-desus atau kabar angin. Kabar angin sendiri mempunyai arti kabar yang belum jelas kebenarannya.

Dengan semakin pesat berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, suatu peristiwa yang terjadi di suatu lokasi yang amat jauh dapat dengan cepat sampai beritanya ke belahan dunia lain. Berkembangnya teknologi seolah menerjang batas-batas antar negara di dunia ini. Informasi begitu cepat tersebar sehingga memunculkan pembicaraan di kalangan masyarakat.

Suatu kabar yang belum jelas sumbernya dapat menyebar lebih luas dan lebih cepat jika dibandingkan dengan berita yang kredibel sumbernya. Acap kali berita yang belum jelas sumbernya atau biasa disebut hoax menjadi topik pembicaraan yang hangat di tengah masyarakat.

Hal ini tentunya berakibat cukup banyak, antara lain bisa memunculkan adanya fitnah dan prasangka. Oleh karena itu, agama Islam mengajarkan pentingnya tabayyun. Sebagaimana yang tercantum dalam Al-Quran :

“Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.”
[al-Hujurât/49:6].

Dalam sebuah hadis lain juga disebutkan bahwa menceritakan sesuatu yang belum jelas sumbernya merupakan perbuatan yang Allah benci, dapat disimak di hadis berikut yang kami ambil dari situs khotbahjumat.com :

“Sesungguhnya Allah meridhai tiga hal dan membenci tiga hal bagi kalian. Dia meridhai kalian untuk menyembah-Nya, dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya, serta berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah dan tidak berpecah belah. Dia pun membenci tiga hal bagi kalian, menceritakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya, banyak bertanya, dan membuang-buang harta.” (HR. Muslim no. 1715)

Dari tulisan kami di atas, dapat disimpulkan bahwa di era yang begitu cepatnya informasi tersebar masyarakat hendaknya meneliti suatu informasi yang disampaikan seseorang agar tidak timbul fitnah dan saling berprasangka buruk.

Sekian, semoga bermanfaat. Jika ada kesalahan mohon dimaafkan.

Islam dan Kebinekaan

Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan bangsa Indonesia yang terpampang di lambang negara yaitu burung Garuda Pancasila sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 BAB XV pasal 36A.  Bhinneka Tunggal Ika yang diambil dari kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular. Semboyan ini memiliki makna yaitu bangsa Indonesia yang terdiri dari beragam agama, ras, suku, budaya, dan bahasa daerah dapat bersatu dalam suatu kesatuan yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kata bhinneka sebagaimana yang tercantum di dalam kakawin Sutasoma mengalami perubahan kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjadi bineka, walaupun mengalami perubahan kata hal ini tidak berpengaruh terhadap perubahan maknanya, yaitu beragam.

            Kebinekaan sendiri walaupun telah menjadi semboyan bangsa Indonesia tetapi dirasakan juga di seluruh dunia karena manusia di bumi ini memiliki agama, ras, suku, dan budaya serta bahasa yang juga berbeda. Tak terkecuali di tanah Arab. Di tanah Arab ini terlahir manusia yang paling sempurna, , Sang Pembawa Risalah yang menjadi Uswatun Hasanah  atau disebut suri tauladan yang baik bagi setiap insan manusia yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam. Di tempat beliau berhijrah, yaitu Yastrib yang kemudian berganti nama menjadi Madinah ini merupakan salah satu contoh masyarakat yang beragam. Masyarakat Madinah saat itu terdiri dari beberapa suku antara lain suku Aus dan Khazraj dan ada juga dari kalangan agama Yahudi yang memang tinggal di Madinah. Untuk menyiasati perbedaan ini Rasulullah membuat Piagam Madinah yang di antara isinya berupa toleransi terhadap kaum Yahudi berupa hak-hak peribadatannya, kaum Yahudi dibebaskan untuk menjalankan aktivitas ibadahnya tanpa harus diusir dan diasingkan. Selain itu, kaum Yahudi dan kaum Muslim saling tolong menolong dalam berbagai bentuk, antara lain saling menyantuni satu sama lain dan apabila kota Yastrib diserang baik Muslim maupun Yahudi tolong menolong mempertahankan kota dari serangan. Kemudian, kaum Yahudi dipungut biaya yang dinamakan jizyah sebagai bentuk biaya keamanan. Jizyah sendiri bukanlah merupakan suatu diskriminasi, melainkan sebagai bentuk mayoritas menjaga minoritas dan minoritas menghormati mayoritas. Dalam berbagai hal, umat Islam harus mencontoh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam tak terkecuali dalam hal toleransi dalam kebinekaan.

            Sebagai negeri yang penuh kebinekaan, Indonesia memang sudah sepatutnya menjadi contoh dalam persatuan dalam kebinekaan. Dalam hal gotong royong patutnya kita tidak memandang latar belakang suku, budaya, agama, dan bahasa karena kita adalah satu kesatuan yang utuh. Tetapi, jika dalam hal-hal keagamaan toleransi dijunjung tinggi dalam bentuk membiarkan umat beragama beribadah dengan damai tanpa ada gangguan apapun. Bukankah adanya perbedaan dapat menyatukan ?

           

Sumber :

  1. Undang-Undang Dasar 1945
  2. Kamus Besar Bahasa Indonesia
  3. https://almanhaj.or.id/2639-piagam-madinah.html
  4. http://salafy.or.id/blog/2012/08/11/hijrah-ke-madinah/

Mukadimah

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillah,

Pos pertama di WordPress.

Semoga postingan-postingan selanjutnya dapat memberi manfaat kepada sesama.

Wassalam.